AV – Banda Aceh: Menutup rangkaian kegiatan Diplomatic Tour 2016 yang diselenggarakan Kementerian PP dan PA di Provinsi Banda Aceh sejak 4 November lalu, Menteri PP dan PA, Yohana Yembise bersama para duta besar dari seluruh dunia mengunjungi Gampong Lubuk Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Minggu (6/11).

Desa Lubuk Sukun merupakan bagian dari Mukim Lubuk dengan luas wilayah 112 ha dan terbagi dalam empat dusun, ialah Darussalihin, Dusun Darul Makmur, Dusun Darul Ulum dan Dusun Darussalam. Terdapat 200 Kepala Keluarga atau 996 jiwa yang menetap di sini.

Lokasi gampong yang tak jauh dari Ibukota Aceh atau 5 meter dari jalan lintas propinsi terlihat asri dan kental dengan budaya tradisional yang masih lekat dengan kehidupan masyarakat. Pasalnya mereka masih mempertahankan adat budaya dan agama yang lekat dengan kehidupan masyarakatnya, Menteri Yohana menjadikan Lubuk Sukon sebagai model atau percontohan kampung tanpa kekerasan (zero tolerance violence).

“Lubuk Sukon saya jadikan pilot project sebagai kampung tanpa kekerasan karena berdasarkan informasi yang saya dapat, tidak ada kekerasan yang terjadi di kampung ini. Kampung ini berbasis masyarakat dan bisa dijadikan model untuk desa-desa lainnya di Provinsi Aceh,” ujar Menteri Yohana Yembise di Kampung Lubuk Sukon, Aceh.

Gampong Lubuk Sukon telah menjalankan sejumlah upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dengan menjalankan program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dan Satgas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Satgas PPPA). Dukungan masyarakat dan pemda setempat dituangkan dalam bentuk penandatanganan komitmen dukungan Bersama Lindungi Anak (BERLIAN).

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Aceh, Dahlia mengatakan Lubuk Sukon menjadi miniatur bagi desa-desa lainnya yang merepresentasikan tidak adanya konflik antarwarga. Kampung ini pun masih utuh dilihat dari kondisi fisiknya karena tidak terhantam bencana tsunami.

“Kampung ini menerapkan PATBM sehingga masyarakat bisa saling melindungi. Ada kepedulian yang tinggi dari masyarakatnya sendiri terhadap anak-anak di lingkungannya. Kami ingin menunjukkan kepada dunia internasional melalui duta besar yang berkunjung ke sini bahwa kondisi Aceh saat ini aman, damai, dan tidak ada konflik. Jadi siapa saja yang ingin datang ke Aceh, tidak perlu takut,” katanya.

Selama 3 hari pelaksanaan kegiatan Diplomatic Tour 2016, 26 duta besar dari seluruh dunia mengunjungi beberapa lokasi di Aceh. Hari terakhir kunjungan, Minggu (6/11), sebelum mengunjungi kampung Lubuk Sukon, para Duta Besar juga berkesempatan mengunjungi Museum Aceh, Museum Tsunami Aceh, dan Masjid Baiturrahman.

Salah seorang istri Duta Besar asal Pakistan, Tahsina menjelaskan kegembiraannya dapat berkunjung ke Aceh.

“Saya senang dapat mengikuti kegiatan ini. Selain masyarakat Aceh yang ramah, saya juga senang mencicipi kopi khas Aceh,” kata Tahsina.

Menurutnya, dengan melihat Aceh secara langsung, ia mengetahui bahwa Aceh kini dalam situasi yang damai dan tanpa konflik. Ia juga menilai masyarakat Aceh cepat bangkit setelah terjadinya bencana tsunami pada 2004 lalu.

Sebelumnya, Provinsi Aceh menetapkan Desa Lubuk Sukon itu menjadi gampong atau desa wisata budaya guna melestarikan adat istiadat dan kearifan lokal masyarakat setempat serta desa wisata percontohan di Aceh. (FD)

BAGIKAN