AV – Banda Aceh: Sebanyak 3 orang pelanggar syariat Islam menjalani hukuman cambuk di Masjid Al-Muchsinin, gampong Jawa kota Banda Aceh. Sedangkan 1 orang lainnya batal dicambuk karena hamil.

Kasatpol PP-Polisi Syariat Kota Banda Aceh, Yusnardi mengatakan, satu orang terpidana gagal dicambuk karena sedang hamil satu bulan sehingga hakim memutuskan ia harus menjalani hukuman badan selama 1 tahun 6 bulan.

“Satu lagi hamil 1 bulan, tidak memungkinkan untuk dicambuk. Untuk menggantikan hukuman cambuk 26 kali itu, ia akan menjalani hukuman kurangan badan selama 1 tahun 6 bulan di LP Lhoknga, Aceh Besar,” katanya.

Dari pantauan acehvideo.tv, Kamis (2/2) salah seorang terpidana yang diketahui bernama Linda Darmawati tidak kuasa menahan rasa sakit saat diesekusi cambuk. Bahkan proses cambuk terhadapnya tertunda beberapa menit hingga akhirnya dihentikan karena kondisinya semakin lemah.

Ia menambahkan, eksekusi cambuk terhadap Linda dihentikan pada cambukan ke 15 karena terpidana mengalami gangguan medis sehingga ukubat cambuk tidak dilanjutkan setelah dinyatakan tidak sehat oleh tim dokter.

“Terpidana sempat drop, sehingga kami menghentikan dan menunda hukuman cambuk dan akan dilanjutkan setelah tim dokter dinyatakannya sehat,” sebutnya.

Ia juga menjeskan, pelaku pelanggaran yang telah diputuskan oleh Mahkamah Syariah ada empat orang sedangkan Epi Susanti, 28, warga Teumpok Teungoh kota Lhokseumawe tidak menjalani hukuman cambuk karena sedang hamil.

Adapun terpidana cambuk yang telah diputuskan oleh Mahkamah Syariah ada 4 oraang yakni Safruddin,35 warga Peuniti Banda Aceh dicambuk sebanyak 27 kali setelah dipotong masa tahanan, sedangkan Humaidi,19 dan Linda, 21 warga gampong Jawa masing-masing menjalani hukuman 26 kali cambuk setelah dipotong masa tahanan.

Sementara itu, dr Mila Fusanti mengaku, kondisi Linda dalam kondisi baik setelah sempat menjalani hukuman cambuk. Hasil pemeriksaan yang dilakukan denyut nadi dan jantung masih normal.

“Kondisi kesehatan baik, tekanan darah sebelum diperiksa baik. Tapi terakhir diperiksa, tekanan darah turun dari 90 menjadi 60 setelah dicambuk tadi,” katanya.

Menurutnya Linda tidak bisa dilanjutkan cambuk akibat kondisi psikisnya sedang syok setelah dicambuk. Oleh karena itu, ia tidak dilanjutkan hukuman cambuk.

“Karena pasien syok. Namun kondisi secara umum masih baik. Begitu juga denyut nadi dan denyut jantung normal,” pungkasnya.

Meski menuai pro kontra, Pemerintah Aceh dan DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) telah mengesahkan Qanun (Peraturan Daerah) Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat  dan efektif berlaku pada 23 Okober 2015.

Berdasarkan data Badan Perlindungan Perempuan dan Anak Aceh bahwa pada tahun 2013 jumlah kasus eksekusi cambuk sebanyak 428 kasus, Tahun 2014 sebanyak 515 kasus dan tahun 2015 sebanyak 548 kasus dan tahun 2015 sedikitnya 108 orang dieksekusi hukum cambuk.

Sedangkan pada 2016 lalu, Mahkamah Syariah Aceh telah memutuskan 221 putusan perkara jinayat. Sementara itu, hukuman cambuk terhadap 3 pelanggar qanun jinayat, Kamis (2/2) yang pertama di tahun 2017. (FD)

 

BAGIKAN