AV – Meulaboh: Dua film pendek karya sineas atau sutrada muda asal Aceh masuk nominasi ajang Festival Film Nusantara (FFN) nasional Tahun 2017, usai bersaing dengan 300 lebih peserta lain yang ikut se-Indonesia. Malam award diselenggarakan Selasa (10/10), dengan turut hadir Presiden RI Joko Widodo, Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo, dan para Menteri sesuai kategori film dilombakan.

Dua Sutradara tersebut, adalah Raja Umar (Jurnalis Kompas TV) dan Taufik Kelana mewakili Komuninas Aceh Movie Maker (AMM) Aceh. Keduanya juga pegiat di acehvideo.tv dan menjadi bagian peserta FFN Tahun 2017 usai mengirimkan hasil karya bersama 300 peserta lain se-Indonesia.

Festival Film Nusantara (FFN) Tahun 2017 dalam rangka meriahkan HUT TNI ke-72, mulai dibuka sejak Maret hingga tutup April lalu. Dari 300 lebih peserta yang menyertakan film hasil karya terbaiknya, hasil seleksi dewan juri hanya tersisa 40 film yang masuk nominasi terbaik pada 12 kategori yang dilombakan.

Dua sutradara muda anak Aceh, yakni Taufik Kelana mewakili AMM Aceh, menyertakan karya film pendek berjudul “Polisi Syariat islam yangg dipuja dan dibenci”. Pada film tersebut, ia berupaya menceritakan bagaimana Polisi syariat islam yang berjuang menjalankan peraturan daerah tentang penerapan syariat islam di Aceh. Meskipun Aceh sebagai daerah sembi mekkah, tapi masih ada masyarakat yang menilai penerapan aturan syariat hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Hasil pengumuman, Film pendek karya Taufik Kelana masuk nominasi kategori religi bersama tiga film peserta terbaik lainnya. “Saya sangat tertarik dengan hasil karya kedua sutradara anak Aceh ini. Seperti Film pendek karya Taufik yang menceritakan Polisi Syariat islam dipuja dan dibenci. Dalam durasi 20 menit film itu telah menceritakan isi dari film,” kata Dicky Juanda, kontributor MetroTV di Aceh, Senin (9/10) di Meulaboh.

Karya sutradara muda Aceh lainnya, yakni Raja Umar, juga tidak kalah menarik perhatian. Ia mengirimkan hasil karya film pendek mengangkat kisah sosok peserja sosial bibir sumbing, Rahmad Maulizar yang sangat semangat terus kerja ikhlas untuk berbagi senyuman dengan sesama penderita bibir sumbing di Aceh.

Dalam karya itu, Raja Umar menceritakan sosok Rahmad yang rutin menuju hampir seluruh pelosok di Aceh demi mencari penderita bibir sumbing. Melalui uluran tangan Yayasan Smile Train Indonesia, Rahmad terus bekerja siang dan malam tanpa henti menceri pasien, semata untuk kembali mengukir senyuman bagi anak-anak penderita bibir sumbing di Aceh.

Film dokumenter Raja Umar ini, berhasil masuk nominasi dalam katagori sosial dan humanism. “Alhamdulillah karya saya berhasil masuk nominasi katagori sosial dan humanisme dengan durasi 8 menit. Semoga saja layak menang di malam penyerahan hadiah,” ucap Raja Umar.

Kini, Raja Umar dan Taufik Kelana telah tiba di Jakarta untuk mengikuti workshop dan persiapan gladi persiapan malam anugerah FFN. Penentuan juara  setiap katagori yang dilombakan akan diumumkan pada malam anugerah.

“Mudah-mudahan karya kami asal Aceh dapat keluar sebagai juara di malam penganugerahan. Persaingan sangat ketat, sebab banyak rumah produksi (Production House) film profesional dan TV swastata nasional turut masuk nominasi dalam 40 peserta terabik. Tapi kami dari Aceh tetap optimis berharap mendapat juara,” harap Raja Umar.

Pada malam award, selain mengambil juara pertama, kedua, dan ketiga setiap kategori, dewan juri juga mengambil sutradara terbaik, Naskah terbaik, dan film terbaik dari 40 karya tersisa. Total hadiah yang disiapkan mencapai Rp 500 juta rupiah. (Jamal)

BAGIKAN