Polisi Tangkap Guru Pesantren Pelaku Pencabulan Santri

0
Polisi menggelar konfrensi pers terkait kasus pencabulan terhadap santri yang dilakukan MZN, seorang guru sebuah pesantren di Aceh Utara. (Foto: Tribratanewspolreslhokseumawe)

AV-Lhokseumawe: Kepolisian Resor Kota Lhokseumawe menahan seorang guru pesantren pelaku pencabulan terhadap dua orang santri, Senin (20/1/2020).

Pelaku MZN (26), merupakan salah seorang guru di dayah atau pesantren JN di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Ia menyerahkan diri ke Polres Lhokseumawe setelah polisi menerima laporan pencabulan dari dua orang santri.

Waka Polres Lhokseumawe, Kompol Ahzan, seperti dikutip Tribratanewspolreslhokseumawe mengatakan, pelaku melakukan pencabulan terhadap dua santri sejak November 2019 di dalam kamar santri.

“Korbannya santri laki-laki berusia 13 dan 14 tahun. Mereka mengaku telah lebih dari lima kali mengalami pencabulan,” kata Kompol Ahzan.

Kasus ini terungkap setelah kedua santri kabur dari pesantren tersebut dan melapor ke Polres Lhokseumawe pada 16 Januari 2020.

Bantah guru pesantren

Pihak pesantren JN di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara membantah pelaku merupakan guru di pesantrean tersebut. ZN salah seorang staf di pesantren JN menyebut, pelaku MZN, merupakan tenaga teknisi yang bertugas di bidang instalasi listrik.

“Pelaku selama ini dikenal berkepribadian baik di depan para guru dan pengurus pesantren. MZN sudah delapan tahun tinggal di pesantren bertugas memperbaiki kerusakan listrik dan pada sore hari, ia menjual jus di kantin pesantren,” sebut NZ.

Atas insiden tersebut, pihak pesantren mengaku akan lebih memperketat pengawasan guru dan santri di asrama. Ke depan pihak pesantren juga akan memasang kamera pengawas untuk memantau aktivitas di pesantren tersebut.

Kasus pencabulan terulang

Kasus pencabulan di pesantren juga pernah diungkap Polres Lhokseumawe pada Juli 2019. Saat itu polisi menangkap pimpinan dan seorang guru karena terbukti melakukan sodomi terhadap 15 santri.

Kasus tersebut terungkap setelah orang tua santri melaporkan pencabulan terhadap anaknya ke pihak kepolisian. Dari hasil pengembangan, diketahui 15 santri menjadi korban sodomi dan akhirnya mereka memilih pindah sekolah.

Pencabulan yang dilakukan pimpinan pesantren AI (45) dan MY (25) seorang guru di pesantren AN, terjadi saat pimpinan dan guru meminta santri untuk membersihkan kamarnya. Pencabulan terjadi sejak September 2018 dan telah dialami para korban tiga hingga tujuh kali.

Kedua tersangka selanjutnya dijerat Pasal 50 jo Pasal 63 ayat 3 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat. Keduanya terancam hukuman 200 kali cambuk atau denda emas 2000 gram atau kurungan penjara 200 bulan. (HD)

BAGIKAN