AV – Jakarta: Biasanya perpustakaan berbentuk gedung megah atau bangunan yang dipenuhi pelbagai koleksi buku. Tak jarang, pustaka hanya bisa dijangkau oleh kaum intelektual dan masyakarat yang tinggal di perkotaan. Bahkan sebagian anak-anak di negera ini tidak pernah mengenal namanya pustaka, apalagi bisa sesuka hati meminjam buku-buku tersebut.

Kondisi itu pun pernah membekas dan menjadi pengalaman berharga bagi seorang alumnus Teknik Nuklir Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Nirwan Ahmad Arsuka. Kepada saya, Senin (6/4) ia bercerita tentang ide awal tergerak untuk mendekatkan pustaka ke pelosok negeri. Hingga akhirnya, lahirlah Pustaka Bergerak Indonesia yang memberikan kemudahan, dan menyenangkan bagi anak-anak Indonesia untuk mewujudkan mimpinya. Berikut wawancaraya saya dengan si koboi jalanan ‘peneror’ anak-anak.

Cerita singkat, ide awal mewujudkan perpustakaan ini?

Ketika saya masih kuliah di Jogja, menjelang dekade 1990-an, saya bergabung dengan kawan-kawan Girli (Pinggir Kali), menemani anak-anak jalanan yang biasa nyemir dan ngamen di Malioboro. Saya kerap membawa buku yang saya bacakan ke adik-adik jalanan itu. Di Malioboro itulah sebagian semangat pustaka bergerak  dibenihkan. Tapi gagasan pembentukan jaringan pustaka bergerak terbit pada Agustus 2014 ketika saya melaksanakan perjalanan berkuda dari Pamulang ke Parompong, merayakan 70 Tahun Indonesia Merdeka.

Dalam perjalanan yang start tanggal 17 dan berlangsung selama 10 hari itu, saya bertemu anak-anak kampung yang menakjubkan. Mereka ini cukup lancar bercerita tentang bintang-bintang sepak bola internasional dan berbagai informasi dunia luar, tapi gagap bercerita tentang kampung mereka sendiri.  Orang-orang tuanya juga tak bisa bercerita rinci mengapa desa mereka benama Cipayung Girang atau Lemah Dulur, misalnya. Temuan saya: anak-anak kampung itu sama cerdasnya dengan anak-anak kota, dan mereka bisa mengoceh tentang dunia luar karena  informasi tentang dunia luar itu bertebaran mengepung mereka, lewat radio, TV, dan aneka gadget.  Sementara informasi tentang kampung mereka, tentang gunung dan lembah mereka, tentang hal-hal yang membuat mereka bisa sungguh-sungguh mencintai tanahair dan bangsa mereka, itu tak tersedia secara memadai dan kadang sulit dijangkau.  Inilah yang memicu ide membuat jaringan Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) yang berskala nasional.

Bagaimana konsep perpustakaan bergerak?

Sebagian besar perpustakaan kita itu tak bergerak, dirancang buat kalangan yang memang cukup sadar pentingnya pengetahuan, dan punya kemampuan untuk mendatangi perpustakaan. Tapi tak semua masyarakat kita punya kemampuan mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan yang memadai itu juga hanya ada di kota, tak sampai di desa dan kampung, apalagi di pulau-pulau terpencil. Kita membuat pustaka bergerak untuk melengkapi kekurangan pustaka tak bergerak. Konsep dasarnya adalah tidak menunggu pembaca datang berkunjung, tapi aktif bergerak mengunjungi pembaca. Pustaka pertama-tama adalah kata kerja, baru kemudian jadi kata benda. Dan karena beban pemerintah sudah banyak, maka PBI mengandalkan kekuatan warga, mengajak warga berpartisipasi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kemana saja tujuan pustaka ini, wilayah jangkauan anda?

Prioritas utama Pustaka Bergerak adalah masyarakat tak punya akses bacaan, yang terpencil. Mereka itu mungkin terpencil secara geografis, misalnya masyarakat di pegunungan atau di pulua-pulau kecil. Mungkin juga terpencil secara sosial, misalnya para warga binaan di penjara, atau anak-anak kelompok minoritas. Masyarakat yang terpencil dan kurang beruntung ini juga berhak untuk mendapatkan pengetahuan yang memadai. Buat PBI, bacaan yang memadai adalah hak dasar warga bersama pangan, sandang, dan papan.

Nirwan Ahmad Arsuka menggelar lapak pustaka bergerak di pinggir pantai
Nirwan Ahmad Arsuka menggelar lapak pustaka bergerak di pinggir pantai

Apa saja alat transportasi pustaka bergerak ini?

Mula-mula kita membangun simpul kuda pustaka, dengan Mas Ridwan Sururi, di kaki Gunung Slamet, Purbalingga. Mulai bergerak awal tahun 2015. Mei 2015 kita meluncurkan Perahupustaka, yang dikoordinir oleh Puaq Ridwan Alimuddin. Peluncurannya ditandai dengan pelayaran dari Pantai Babbaq Toa, Sulawesi Barat, ke Pantai Losari, Sulawesi Selatan, sekalian merayakan MIWF (Makassar International Writers Festival). Kemudian kita mengajak masyarakat untuk bekerjasama mengembangkan bendipustaka, kudapustaka dan perahupustaka di beberapa tempat lain. Warga pun merespon sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Ada yang membuat pedati pustaka, motor pustaka, sepeda pustaka, vespa pustaka, becak pustaka, dan segala macam wahana bergerak yang mungkin digunakan. Bahkan ada relawan yang mau jalan kaki membawa buku yang disimpan di dalam noken, ransel, keranjang, bakul, kotak plastik bekas, dll.

Ada sejumlah kawan yang sebelumnya juga sudah menjalankan pustaka keliling  namun bergerak sendiri-sendiri secara lokal. Mereka pun kita ajak bergabung dan berjejaring secara nasional.

Sekarang di beberapa daerah juga melakukan hal serupa, mereka menjemput bola agar anak-anak mau membaca, apakah mereka tergabung dalam komunitas anda, dimana saja?

Ya, inisiatif warga untuk membangun sendiri simpul-simpul pustakanya lalu bergerak mendatangi tetangganya itu hal yang sangat menggembirakan. Jaringan PBI itu sifatnya terbuka, dan makin banyak simpul-simpul baru yang bergabung. Sampai April 2020 ini jumlah anggota jaringan Pustaka Bergerak itu sudah sekitar 2900, tersebar di semua provinsi Republik Indonesia.  Kita harap jumlahnya terus bertambah. Peta persebaran simpul-simpul ini bisa dilihat di situs pustakabergerak.id.

Bagaimana dengan respon masyarakat terhadap upaya yang anda lakukan dalam membumikan literisi ?

Respon warga umumnya luar biasa. Antusias. Memang mulanya ada juga warga yang salah paham. Ada sejumlah kawan kita yang awalnya dikira pedagang buku keliling, orang stres yang cari perhatian, bahkan penculik anak-anak yang menjebak korbannya dengan buku. Ketika salah paham itu sudah dijernihkan, masyarakat dengan caranya masing-masing mendukung gerakan ini. Ada sopir, nelayan dan perusahaan kargo yang menggratiskan penitipan buku untuk masyarakat. Ada restoran dan pompa bensin yang menggratiskan dagangannya untuk relawan. Ada bengkel yang secara teratur dan tanpa biaya  merawat motor-motor pustaka yang mereka perlakukan bagai pahlawan. Dulu, setiap tanggal 17, masyarakat berbondong-bondong menyumbangkan buku ke seluruh penjuru Tanahair. Respon masyarakat yang sangat positif, yang bergotong royong membantu pemerintah mewujudkan cita-cita konstitusi, itu dengan jelas menghadirkan momen “kegembiraan berbangsa dan bernegara.”

Selama ini dalam aktivitas anda, selalu bertemu dengan anak-anak yang berbeda dengan semangat dan karakter berbeda pula dalam menyambut kedatangan anda (pustaka bergerak) bagaimana perasaan dan respon anda?

Anak-anak itu mungkin saja berbeda-beda, tapi mereka semua suka cerita yang menarik. Jika bertemu dengan buku yang sesuai selera, anak-anak itu berubah menjadi lebih baik, lebih tertib, dan lebih menyenangkan. Anak-anak yang sudah suka buku itu rajin menunggu, bahkan menagih, kedatangan relawan. Jika para relawan tak muncul sesuai jadwal, anak-anak bisa menyusul ke tempat relawan dan membaca di sana. Anak-anak yang gampang hanyut oleh buku ini ada di seluruh pelosok Tanahair, dan itu membuat saya yakin bahwa Indonesia memang punya masa depan yang cemerlang. Kita hanya perlu membantu anak-anak tumbuh dengan bacaan dan pengetahuan yang bermutu.

Nirwan Ahmad Arsuka bersama anak-anak yang selalu menanti kehadirannya
Nirwan Ahmad Arsuka bersama anak-anak yang selalu menanti kehadirannya

Bagaimana koleksi buku-buku di perpustakan bergerak, totalnya dan buku tema apa saja, mungkin ada buku tema tertentu yang paling diminati anak?

Jumlah dan jenis koleksi buku di simpul-simpul pustaka bergerak itu bervariasi. Ada yang sudah hampir 10.000 seperti di Nusa Pustaka Mandar, tapi juga ada yang masih puluhan, terutama di simpul-simpul yang baru terbentuk. Kita memang selalu mendorong kawan-kawan baru untuk berani bergerak mendatangi pembaca, sekalipun bukunya baru lima judul misalnya. Yang penting kreatif dan bisa menciptakan kegiatan menarik. Buku yang bagus, walaupun bekas, tentu sangat membantu relawan. Karena itu kita sangat berterima kasih pada warga yang telah menyumbangkan buku. Ketika program Free Cargo Literacy (FCL) yang menggratiskan pengiriman buku sehari setiap bulan itu masih berlangsung, tercatat sekitar 135 ton buku yang disumbangkan. Meskipun angka ini terasa banyak, namun belum mencukupi kebutuhan anak-anak Indonesia yang luas ini.

Buku yang paling diminati anak-anak itu adalah buku cerita bergambar. Ceritanya bisa apa saja,  termasuk wira carita dan kisah para rasul, hingga pengetahuan populer.  Selera buku anak Indonesia itu memang sama saja dengan anak Eropa atau Amerika. Sayang sekali bahan-bahan tentang Indonesia, yang ditulis dan disajikan secara menarik, itu masih sangat sedikit jumlahnya.

kebahagian anak-anak bisa membaca buku sembari menyeruput minuman kesukaan
kebahagian anak-anak bisa membaca buku sembari menyeruput minuman kesukaan

Dari perjalanan anda, bagaimana anda menjelaskan minat baca anak-anak di pelosok tanah air yang jauh dari jangkauan buku?

Saya selalu kesal jika ada yang bilang minat baca anak-anak Indonesia itu rendah. Faktanya adalah minat baca anak-anak itu tinggi, dan mereka selalu merubung jika relawan datang membawa buku. Apalagi jika ada buku-buku baru.

Jika minat baca masyarakat Indonesia itu tampak rendah di statistik, itu semua disebabkan oleh tak adanya bahan bacaan yang mudah dijangkau, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Minat baca dan kemampuan memahami bacaan itu seperti otot yang harus terus menerus dilatih. Otot yang jarang digunakan itu akan menyusut dan terasa sakit jika digunakan. Begitu juga dengan kemampuan memahami bacaan. Karena sulitnya mendapat bacaan yang bagus, kemampuan baca dan minat anak-anak Indonesia itu jadi tampak rendah. Tapi begitu buku-buku bagus tersedia, anak-anak Indonesia akan dengan cepat menunjukkan kecerdasannya yang kadang mengagetkan.

Sejauh ini adakah dukungan/bantuan pemerintah/non pemerintah? baik buku atau fasilitas pendukung lainya?

Setelah berjalan hampir dua tahun, pemerintah lewat Perpusnas RI mengundang sejumlah relawan dan memberi penghargaan Nugra Jasadarma Pustaka 2016. Perpusnas juga kemudian membantu dengan menyumbangkan 25 motor  dan seekor kuda.  Setelah setahun lebih melobi PT Pos untuk membuat program pengiriman buku gratis, akhirnya pada 2 Mei 2017 Presiden Joko Widodo memberi persetujuan, dan terwujudlah Free Cargo Literacy (FCL). Dukungan PT Pos ini adalah bantuan pemerintah yang paling besar manfaatnya. Sayang sekali program bagus ini terhenti sejak Maret 2019, dan diambil alih oleh Kemedikbud.  Sejak akhir 2017 Kemkominfo  juga mendukung PBI mencetak buku-buku pilihan yakni seri “Anak Bertanya Pakar Menjawab” yang disunting oleh guru besar matematika ITB, Mas Hendra Gunawan.

Kominfo juga membantu dengan menyelenggarakan Pesta Komik dan mengirimkan secara bergelombang seri Komik Komunika ke semua simpul PBI di seluruh Indonesia. Kemenhub lewat PELNI juga pernah membantu pengiriman kuda dari Tanjung Priok ke Manokwari, yang kemudian jadi simpul Kudapustaka Papua Barat. Dengan Kemendesa kita ada kerjasama pengembangan pustaka desa di seluruh Indonesia, sementara dengan Kemkumham ada kerjasama pengembangan pustaka jeruji dan program pemotongan masa tahanan (remisi) lewat kegiatan literasi. Selain menghidupkan Perahupustaka Lampung, Mas Radmiadi dan kawan-kawan kita di Selat Sunda membangun kerjasama dengan ASDP membangun pustaka di kapal ferry.

Bank Danamon dan Deutsche Bank juga pernah membantu PBI mengadakan buku. Jumlahnya ada puluhan ribu eksemplar. Megadeth, group musik heavymetal dari Amerika, pun pernah membantu dengan pelelangan gitar sebesar 150 juta yang semuanya kita pakai untuk mencetak buku seri terbaru “Anak Bertanya Pakar Menjawab”

Nirwan Ahmad Arsuka bercengkrama dengan ana-anak
Nirwan Ahmad Arsuka bercengkrama dengan ana-anak

Bagaimana capaian pustaka bergerak ini, sudah seperti harapan anda? atau adakah pengembangan yang akan anda lakukan ke depan?

Beberapa terobosan PBI memang telah terasa dampak positifnya. Kegiatan relawan yang unik dan kreatif, yang menggunakan kuda, perahu, bemo dan sebagainya juga sudah kerap diliput oleh media internasional, dan itu ikut mengangkat citra Indonesia di mata dunia. Tapi kerja kita masih panjang.  Sejak akhir tahun lalu kita mulai mengkampanyekan gerakan literasi parlemen, untuk mempercepat gerakan literasi semesta yang melibatkan semua pihak. Pilar utama gerakan literasi semesta ini memang adalah pengiriman buku gratis.

Jika ditakar dari biaya dan dampaknya, Free Cargo Literacy boleh dikata adalah infrastruktur literasi yang revolusioner. Gerakan pengiriman buku gratis tiap tanggal 17 ke seluruh penjuru Indonesia ini bukan saja meningkatkan gairah baca anak-anak di berbagai penjuru, dan mempercepat pengerahan pengetahuan dari pusat ke pinggiran. Gerakan ini juga mengobarkan partisipasi warga dan menjadikan mereka subyek penting untuk ikut memecahkan persoalan bangsa. Free Cargo Literacy terbukti ikut mengukuhkan perasaan kebangsaan dan solidaritas dari orang-orang yang mungkin tak pernah saling bertemu namun bergabung dan saling bantu untuk memperbaiki mutu sumber daya manusia Indonesia.

Dalam kondisi pendemi korona ini, bagaimana aktivitas pustaka bergerak berjalan? 

Corona ini memang menyurutkan kegiatan kawan-kawan di satu sisi, yakni kegiatan baca tulis di ruang terbuka. Tapi juga mengintensifkan kegiatan kawan-kawan di sisi lalin, yakni kegiatan kreatif di rumah saja. Selain sibuk membenahi koleksi buku dan raknya, kawan-kawan kita saat ini asyik membuat catatan, dan bergairah bikin komik untuk meramaikan Pesta Komik. Sejumlah kawan yang lain tetap aktif di luar, membantu membuat masker dan sanitizer yang dibagikan gratis, juga aktif keluar masuk kampung menyebarkan informasi tentang Corona dan cara menghadapinya. Dengan caranya masing-masing, kawan-kawan di berbagai penjuru telah merespon wabah Corona dan ikut meringankan beban pemerintah dan tenaga medis yang semakin berat.

Nirwan Ahmad Arsuka dan anak-anak yang senantiasa menanti kedatanganya
Nirwan Ahmad Arsuka dan anak-anak yang senantiasa menanti kedatanganya

Apa tantangan PBI kini, dan bagaimana anda menyelesaikannya?

Agenda kita saat ini adalah mengangkat gerakan literasi menjadi gerakan kebudayaan, yang bersifat semesta. Semua unsur masyarakat dan pemerintah memang perlu terlibat, bukan hanya agar skor PISA dan indeks literasi kita meningkat tajam.

Kita berharap, kesepahaman dengan kawan-kawan di Senayan bisa menelurkan gerakan yang lebih luas. Jika semua wakil rakyat sepakat meyumbang buku dan mendukung pengembangan pustaka di dapil masing-masing, efeknya tentu akan sangat positif. Lebih bagus lagi jika kawan-kawan parlemen bisa mendorong adanya anggaran literasi semesta, minimal anggaran pengiriman buku gratis ke seluruh penjuru.

Kerjasama dengan pihak-pihak yang sudah terjalin, dengan Kemkominfo, Kemendesa, Kemkumham, dan sebagainya, tentu akan kita perluas lagi.

Yang jelas, pesta demokrasi dan perayaan berbangsa yang sesungguhnya itu ternyata bukan di pilkada dan pilpres yang mempertajam polarisasi, tapi di gerakan literasi semesta yang melibatkan semua pihak. Dan kita pernah mengalaminya, meski belum optimal, dulu tiap tanggal 17. (FAM)

BAGIKAN