Kodam Iskandar Muda Bantu Budidaya Tiram di Aceh

Prajurit TNI Kodam IM menerima 1000 keranjang dan pelampung wadah budidaya tiram yang di impor dari China, Jumat (28/5/2021) Foto: (Ist)

AV – Banda Aceh: Kodam Iskandar Muda (IM) membantu pengembangan budidaya tiram di Provinsi Aceh.  Satu kontainer keranjang dan pelampung sebagai wadah untuk membesarkan bibit tiram yang dipesan langsung dari China telah tiba di Aceh.

“Setelah mendengar presentasi saya terkait budidaya tiram, pak Kasdam IM Brigjen TNI Joko Purwo Putranto tertarik dan membantu dana untuk impor sebanyak 1.000 (seribu) unit keranjang lengkap dengan pelampungnya dari China”, kata Syardani M. Syarif, Jumat (28/5/2021) di Banda Aceh.

Baca juga: Bahlil Lahadia Bahas Perkembangan Investasi di Aceh

Keranjang dan pelampung tersebut selanjutnya akan ditempatkan di sejumlah lokasi, seperti di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Jaya yang merupakan lokasi percontohan budidaya tiram di Provinsi Aceh.

“Ini sebagai pilot project pengembangan tiram di Aceh dan juga menjadi pusat edukasi budidaya tiram yang lebih modern untuk bisa dilihat dan di contoh serta dibantu untuk masyarakat oleh pemerintah terutama Gubernur, Bupati/Walikota yang mempunyai wilayah pesisir laut di seluruh Aceh”, lanjut Syardani, penuh harapan positif untuk kemajuan petani tiram di Aceh.

Pelampung dan keranjang wadah untuk budidaya tiram.

Syardani M. Syarif atau yang akrab disapa Teungku Jamaica, merupakan pelopor Budidaya Tiram Metode Sederhana (BTMS) di Aceh, dengan memanfaatkan ban mobil bekas sebagai media untuk menempel spat (bibit) tiram.

Baca juga: Sambangi JMSI Aceh, Komisaris BSI Harapkan Media Dorong Literasi Keuangan Syariah

Menurutnya, selama ini petani tiram tradisional biasanya memanen tiram dengan cara merendam dalam air asin dan berlumpur selama berjam-jam untuk mengambil tiram yang menempel di batu-batu dan kayu di dasar waduk/sungai/alur.

Dalam kondisi yang tidak nyaman dan juga penuh risiko, mereka harus berjalan di atas permukaan batu sangat licin yang mudah terpeleset hingga jatuh, walaupun mereka menggunakan sepatu karet dan sarung tangan, namun cangkang tiram yang keras dan tajam itu juga masih dapat membelah dan menembus sepatu karet dan sarung tangan yang mereka gunakan itu, sehingga dapat melukai fisik terkena sayatan cangkang tiram yang sangat tajam.

Baca juga: Video: Vaksinasi Covid-19 di Aceh Terendah Secara Nasional

“Nah, saya tidak mengubah profesi mereka sebagai pencari tiram, Budidaya Tiram Metode Sederhana ini hanya mengubah cara kerja untuk memudahkan dan meringankan pekerjaan mereka untuk mencari Tiram”, sambungnya lagi.

Dengan metode BTMS, pencari tiram tidak perlu lagi harus turun merendam dalam air asin dan berlumpur untuk mengambil tiram. Mereka cukup duduk di atas sampan atau perahu kecil untuk mengangkat collector (ban mobil bekas) yang telah dipenuhi dengan tiram siap dipanen, juga tidak lagi terluka kaki dan tangannya karena kena sayatan cangkang tiram yang tajam.

Baca juga: Semua Pihak Harus Dukung Kebijakan Pemerintah Aceh Cegah Lonjakan Corona

“Budidaya Tiram Metode Sederhana tersebut mudah ditiru dan dilakukan oleh siapapun. Jadi, siapapun Gubernur Aceh, Bupati/Walikota, tinggal plot anggaran saja, copy and paste program Budidaya Tiram Metode Sederhana ini. Selesai masalahnya”, pungkas Syardani M. Syarif . (*/HS)

Berita lain: