Penanganan Pandemi Covid-19 Harus dengan Komunikasi Massa yang Baik

dr. Iziddin Fadhil.

AV-Banda Aceh: Bertambahnya kasus dan luasnya penyebaran Covid-19 di Aceh terus menjadi perhatian bersama dan telah berdampak kepada tatanan kehidupan masyarakat. Kondisi ini membuat seluruh pemerintah kabupaten/Kota di Aceh bereaksi sedemikian rupa untuk mencari strategi penanganan.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, dr Fadhil menyebutkan, pemerintah seperti kesulitan dalam menyusun strategi, dan menilai seharusnya strategi komunikasi publik sangat berperan dalam upaya penanganan.

“Jika kita flashback ke awal 2020 lalu, narasi yang dikembangkan oleh elite politik di Indonesia sedikit bernuansa meremehkan ganasnya virus korona dan menganggap bahwa virus tersebut dapat dihalau dengan doa, budaya, jenis makanan, minuman tradisional di Indonesia dan lain sebagainya,” kata dr Iziddin Fadhil atau yang akrab disapa dr Raja kepada acehvideo.tv, Selasa (1/6/2020).

Baca juga: 15 Korban Covid di Aceh Meninggal Dunia, Tertinggi Selama Pandemi

Namun, respon berubah ketika kasus Covid-19 menyebar luas dan mengakibatkan ribuan warga Indonesia menjadi korban, hingga saat ini Covid-19 menjadi momok bagi pemerintah.

Khususnya di Indonesia, berbagai prediksi ahli menyebutkan jika pandemi tersebut belum akan berkahir dalam waktu dekat ini. Sehingga, dalam menanggapi pandemi ini diperlukan adanya pola komunikasi yang efektif dan efisian untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait strategi penanganan Covid-19.

“Kami menilai Komunikasi Massa memiliki peranan yang krusial dalam penanganan pandemi Covid-19. Pemerintah jangan justru menakut-nakuti masyarakat dengan narasi-narasi yang tidak edukatif, yang justru berdampak kontradiktif dengan apa yang diharapan pemerintah,” jelasnya.

Baca juga: Satgas Covid Pidie Segel Lima Kafe, Begini Penjelasan Kapolres

Menurut  dr Fadhil, yang diharapkan oleh pemerintah dari masyarakat adalah kepatuhan mengikuti dan melaksanakan protokol kesehatan. Oleh karena itu yang perlu disampaikan ke masyarakat adalah bagaimana masyarakat perlu waspada, bagaimana cara mencegah.

Dia menegaskan jangan menyampaikan hal yang justru terkesan “menakut-nakuti” masyarakat yang akhirnya menguatkan stigma negatif terhadap masyarakat yang terkonfirmasi Positif Covid-19.

“Padahal justru mereka harus dirangkul untuk dapat dilakukan tracing dan testing bagi yang masyarakat lain yang memiliki riwayat kontak dengan mereka, sehingga dapat terinventarisir untuk dilakukan tindakan selanjutnya sesuai protokol yang seharusnya,” tegasnya.

Baca juga: Video: Polisi Lalu Lintas di Lhokseumawe Bawa ‘Jenazah’ Sosialiasi Bahaya Corona

dr Fadhil menambahkan pengertian komunikasi dalam definisi sederhana, diterangkan oleh Harold D. Lasswell adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menerangkan pesan atau diterjemahkan guna menjawab pertanyaan.

“Ditengah pandemi Covid-19 ini, komunikasi merupakan sebuah langkah penting guna menyampaikan informasi yang dibutuhkan seseorang ataupun masyarakat,” terangnya.

Dengan kebijikan pembatasan sosial, maka komunikasi massa menjadi sebuah pilihan untuk penyampaian informasi kepada publik. Menanggapi berbagai persoalan yang timbul akibat pandemi Covid-19 ini, komunikasi publik menjadi pilihan terbaik dalam proses interaksi sosial yang harus tetap berjalan di tengah pandemi. Komunikasi publik dapat dilakukan dengan dua cara yaitu komunikasi lisan maupun tulisan.

“Dengan kemajuan Teknologi saat ini sangat mudah membagun komunikasi antara pemerintah dan masyarakat,” ujarnya.

Baca juga: Video: Lokasi Wisata di Aceh Kembali Ditutup

Selama ini, lanjut dr Fadhil, komunikasi yang dilakukan hanya dibangun dikalangan bagi elite saja, tetapi tidak melibatkan langsung masyarakat yang menjadi sasaran sebagai bentuk edukasi masyarakat dan sharing informasi dalam penanganan Covid-19.

“Kami berkeyakinan sangat sulit persoalan pandemi Covid-19 ini bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah dan elitenya saja, tanpa melibatkan komponen masyarakat,” terangnya.

dr Fadhil mengajak semua pihak memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya bersikap jujur ketika merasakan keluhan gangguan kesehatan yang mengarah ke Covid-19, ajak dan edukasi masyarakat untuk mau memeriksakan diri agar dapat terdeteksi dan tidak menularkan kepada orang lain.

Baca juga: Gubernur Aceh Nova Iriansyah Positif Corona

Fasilitasi masyarakat yang ingin memeriksakan diri jika mereka mengalami gangguan kesehatan yang mengarah ke Covid-19, jangan justru diabaikan dan tidak ditangani karena berbagai alasan, alat yang tidak tersedia, petugas yang tidak ada dan kehati-hatian yang berlebihan yang akhirnya mengakibatkan masyarakat kecewa, engan memeriksakan diri dan antipati terhadap kondisi kita saat ini.

“Kami mengajak media masa, online dan cetak, elektronik (radio dan televisi) bantu pemerintah dalam memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat. Peran media sebagai mitra pemerintah memeiliki letak yang strategis dalam penyebaran informasi publik,” paparnya.

Bagi pemerintah, dr Fadhil berharap hindari memberikan informasi yang terkesan menakut-nakuti masyarakat yang akhirnya menimbulkan penolakan dan antipati dikalangan masyarakat.

Baca juga: Korban Corona di Aceh Bertambah, Semua Harus Bersatu Hadang Sumber Penularan

Masyarakat harus mendapatkan informasi yang bersifat meningkatkan kewaspadaan diri, rangkul masyarakat bersama-sama menyelesaikan masalah pandemi Covid-19 ini dan menghilangkan stigma negatif terhadap penderita Covid-19 dengan tidak mengucilkan penderita. Jadi apa yang harus dilakukan masyarakat adalah “Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya” pungkas pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Banda Aceh ini.  (*/FM)

Berita lain: